Iran Tegaskan: Tidak Ada Kompromi di Luar Hukum Internasional
Di tengah ketegangan yang terus membara, negotiation antara Iran dan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menegaskan bahwa Teheran hanya akan bergerak dalam koridor hukum internasional—tidak lebih, tidak kurang. Tidak ada deadline yang bisa menekan keputusan mereka, ujarnya dalam wawancara dengan IRIB. Pernyataan ini bukan sekadar retorika; ini adalah warning tegas terhadap tekanan global yang kerap mengabaikan prinsip hukum.
Khatibzadeh mengungkap bahwa proposal yang diajukan Iran—oleh tokoh seperti Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi—bukanlah tawaran emosional, melainkan practical dan adil dalam kerangka hak hukum negara. Ia menekankan bahwa officials di Washington sering kali membuat pernyataan yang lebih ditujukan untuk public dan market , bukan sebagai cerminan kebijakan luar negeri yang konsisten. Dalam dunia diplomasi, kata-kata bisa menjadi senjata, dan Iran tampaknya telah belajar membaca antara lines .
Yang menarik, Iran menolak tergoda oleh retorika AS, baik yang bersifat positive maupun agresif. Strategi mereka tidak dibentuk oleh rhetoric —melainkan oleh prinsip. Khatibzadeh menegaskan kembali: tidak akan ada compromise yang melanggar hukum internasional. Untuk Teheran, ini bukan soal harga diri semata, tapi soal kedaulatan yang diukur lewat kepatuhan hukum, bukan kekuatan militer.
Namun, di balik ketegasan itu, ada satu penawaran damai: diplomacy tetap menjadi satu-satunya jalan yang layak. Iran mendesak AS untuk meninggalkan pendekatan maksimalis yang selama ini memperkeruh suasana. Dialog, kata Khatibzadeh, hanya bisa berjalan atas dasar saling menghormati. Tanpa itu, setiap talk hanyalah sandiwara tanpa result nyata.
Kalau semua negara pakai hukum internasional sebagai patokan, kenapa AS sering ignore mengabaikan saat tidak sesuai kepentingan mereka?
Pendekatan 'maksimalis' itu cuma cara lain buat bilang 'intimidasi'. Tapi apakah Iran benar-benar punya leverage daya tawar yang setara?
Setuju soal diplomasi, tapi realitanya selalu terganggu oleh politics politik dalam negeri di kedua negara.
Negara kecil aja takut sama tekanan AS. Iran berani bilang 'tidak'. Itu butuh courage keberanian.
Proposal adil dan praktis? Tapi di mana teks lengkapnya? Tanpa transparansi, ini cuma claim klaim yang sulit diverifikasi.
Diplomasi itu penting, tapi jangan lupa sejarah. Banyak janji yang diingkari setelah agreement kesepakatan ditandatangani.