Tambang Emas Martabe Segera Beroperasi Kembali, Presdir UNTR: Karyawan Dirumahkan Mulai Dipanggil
Tambang emas Martabe di Tapanuli Selatan akan new pada pertengahan Mei 2026, setelah sempat dihentikan sejak Desember 2025. PT United Tractors Tbk (UNTR) memastikan bahwa decision penghentian sementara ini diambil untuk fokus menangani bencana banjir dan tanah longsor di sekitar area tambang yang dikelola oleh PT Agincourt Resources.
Presiden Direktur UNTR, Iwan Hadiantoro, menjelaskan bahwa seluruh persiapan kini sedang berjalan untuk memulai kembali aktivitas pertambangan. Salah satu langkah utama adalah memanggil kembali para workers yang sempat dirumahkan. Perusahaan juga telah mendapatkan approval dari Kementerian Lingkungan Hidup, menandai kelanjutan proses pemulihan.
UNTR menargetkan produksi emas sekitar 60.000 ounce untuk tahun ini. Angka ini kontras dengan capaian awal tahun yang sangat rendah: hanya 2.000 ounce terjual pada Januari–Februari 2026, jauh di bawah 38.000 ounce pada periode yang sama tahun lalu. Pasar menyambut kabar ini sebagai sinyal pemulihan performance perusahaan.
Pengoperasian kembali juga akan dibarengi dengan peningkatan safety kerja dan pengelolaan lingkungan. Iwan menegaskan komitmen untuk memperkuat koordinasi dengan instansi pemerintah dan pemangku kepentingan guna memastikan semua aktivitas berjalan sesuai regulasi. Perubahan ini diharapkan mencegah risk serupa di masa depan.
Akhirnya karyawan bisa kembali kerja, pasti lega banget. Ini relief bukan cuma soal produksi, tapi juga mata pencaharian banyak keluarga.
60.000 ounce terdengar ambisius setelah hanya jual 2.000 di awal tahun. Tapi kalau recovery pemulihan berjalan cepat, mungkin masih masuk akal.
Dulu dicabut izin karena bencana, sekarang diberi lagi. Konsistensi kebijakan pemerintah kadang bikin pressure tekanan buat perusahaan.
Semoga peningkatan safety keselamatan ini beneran diterapin, bukan cuma pencitraan pas mau buka lagi.
Kalau produksi lancar, harga emas global bisa terbantu. Pasokan dari Indonesia penting buat market pasar internasional.
Perusahaan harus transparan soal impact dampak lingkungan. Jangan sampai kejadian banjir terulang gara-gara pengabaian.