Modus Pelecehan Syekh AAM: Tawaran Sekolah ke Mesir hingga Dalih Agama
Kasus dugaan pelecehan yang melibatkan pendakwah ternama Syekh AAM masih belum menunjukkan progress signifikan sejak pelaporan ke Bareskrim Polri pada 28 November 2025. Meski telah dipanggil, pelaku tidak hadir dengan alasan berada di Mesir. Hingga kini, investigation masih berjalan lambat, sementara jumlah korban terus mengemuka. Kelima korban yang telah memberi keterangan semuanya laki-laki, dan sebagian berstatus minor saat kejadian.
Modus yang digunakan Syekh AAM terungkap melalui pengakuan pendamping korban, Abi Makki Mulki Miski. Ia menyebut pelaku menawarkan education di Mesir sebagai bait untuk mendekati para korban. "Apakah korban mau belajar ke Mesir," begitu kata Abi Makki menirukan tawaran pelaku. Tawaran ini terdengar mulia, tetapi justru menjadi jalan untuk melancarkan abuse yang merusak kepercayaan publik.
Yang membuat kasus ini semakin memicu outrage adalah cara Syekh AAM membenarkan perbuatannya. Ia mengaitkan tindakannya dengan Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib—dalih yang langsung ditolak sebagai manipulation oleh para korban. Bahkan, ada korban yang dipaksa menyaksikan tayangan inappropriate . Ia juga menyebut Imam Syafii melakukan hal serupa, klaim yang tidak memiliki dasar dan hanya menjadi alat justification belaka.
Reputasi pelaku sebagai pendakwah dan penghafal Al-Qur’an justru dimanfaatkan untuk deceive korban. Abi Makki menekankan bahwa kepercayaan terhadap tokoh agama membuat korban sulit resist atau bahkan mempertanyakan tindakan pelaku. Dengan lima kasus tercatat dan dugaan jumlah yang lebih tinggi, polisi diharapkan segera mengambil action tegas, terlepas dari posisi pelaku di luar negeri.
Bayangin anak dikasih opportunity kesempatan belajar ke Mesir, eh malah dimanfaatkan. Ngeri banget modusnya.
Pake nama Nabi dan Imam besar buat nutupin dosa? Itu bukan cuma abuse pelecehan, tapi pengkhianatan terhadap agama.
Polisi harusnya bisa panggil paksa atau kerja sama dengan otoritas Mesir. Keterlambatan begini bikin korban makin trauma.
Korban laki-laki sering diabaikan. Padahal mereka juga butuh support dukungan dan ruang aman buat bicara.
Ini soal kekuasaan, bukan agama. Dia pake authority otoritas sebagai pendakwah buat kontrol korban.
Kalau reputasi bisa ditukar jadi senjata buat exploit memanfaatkan orang, siapa lagi yang masih bisa dipercaya?
Tayangan tidak pantas juga bagian dari pembinaan psikologis sebelum eksploitasi. Harusnya ini jadi perhatian serius.
Jangan sampai kasus ini tenggelam karena dia tokoh. Keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu.