Kajian Muslimah Masjid Darussalam Angkat Fenomena Utang dan Dampak Sosial Pinjaman Online
Kajian muslimah di Masjid Darussalam pada Rabu (15/4/2026) mengangkat isu mendalam tentang fenomena utang dan impact dari pinjaman online. Mengusung tema "Hutang yang Berkah vs Hutang yang Menghancurkan", acara ini menghadirkan Ustadz Dian Rangga, M.E.Sy., yang menyoroti maraknya praktik pinjol dan consequences yang kini makin terasa di masyarakat. Ia menyebutkan bahwa kasus tekanan berat akibat utang bukan lagi sekadar isu finansial, tetapi telah menjadi krisis psikologis dan sosial yang nyata.
Salah satu poin penting yang diangkat adalah munculnya tindakan ekstrem, termasuk suicide , akibat beban utang yang tak terbendung. Tidak hanya individu, keluarga pun ikut terkena pressure —banyak ibu rumah tangga harus bekerja ekstra keras untuk melunasi utang anak-anak mereka. Fenomena ini menunjukkan bagaimana pinjaman online yang awalnya dianggap solusi cepat, justru berubah menjadi burden yang menghancurkan stabilitas rumah tangga.
Ustadz Dian juga mengungkap latar belakang di balik maraknya pinjol: sebagian besar utang tidak digunakan untuk kebutuhan mendesak, melainkan untuk membiayai gaya hidup consumptive , termasuk judi online dan pembelian gadget terbaru. Ini mencerminkan pergeseran fungsi utang dari alat pemenuhan necessity menjadi alat pemenuhan gengsi. Tren ini, menurutnya, dipicu oleh dorongan sosial dan lifestyle yang terus diperkuat oleh media dan lingkungan sekitar.
Dalam perspektif keagamaan, utang digambarkan sebagai masalah kronis yang membawa shame di siang hari dan gangguan tidur di malam hari, mengutip pandangan tokoh Islam Luqmanul Hakim. Kajian ini juga menekankan peran penting ibu dalam menjaga financial keluarga agar tidak terjebak dalam siklus utang. Di tengah maraknya akses kredit digital, kesadaran kolektif dan responsibility finansial menjadi kunci untuk mencegah krisis yang lebih luas.
Sedih banget dengar ada yang sampai bunuh diri karena debt utang. Padahal awalnya cuma buat ganti HP.
Pinjol iklannya mudah dan cepat, tapi nggak pernah kasih warning peringatan serius soal bunganya yang gila-gilaan.
Ibu emang jadi tameng terakhir. Kalau anak-anak udah terlilit, yang bayar malah ortu. Tidak adil banget.
Gaya hidup sekarang terlalu dipengaruhi medsos. Mau punya semua cepat, tanpa mikir consequence dampak jangka panjang.
Harusnya kajian gini rutin diadakan. Banyak yang nggak sadar kalau borrowing berhutang bukan dosa kecil.
Pemerintah kapan atur ketat pinjol? Ini bukan cuma soal agama, tapi juga public publik safety.
Kalau dilihat dari sisi ekonomi, tren utang konsumtif ini bisa ganggu stability stabilitas finansial rumah tangga secara nasional.
Ironis, teknologi bikin akses gampang, tapi malah tambah problem masalah. Harus ada edukasi massal.