UTBK 2026 Hari Pertama Dicemari Kecurangan, Praktik Joki hingga Penggunaan Alat Bantu
Hari pertama pelaksanaan exam Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 ternoda oleh sejumlah praktik cheating , termasuk penggunaan alat bantu tersembunyi dan penyewaan proxy . Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) membenarkan telah mendeteksi dua pola utama kecurangan sejak ujian dimulai, yang langsung mereka ungkap dalam konferensi pers pada Selasa (21/4/2026). Temuan ini memicu kekhawatiran luas tentang integrity proses seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB, Prof. Eduart Wolok, menjelaskan bahwa modus pertama melibatkan peserta yang menyembunyikan device bantu di dalam pakaian atau tubuh mereka. Alat tersebut dilengkapi headset untuk menerima bantuan dari luar ruang ujian. Kasus serupa teridentifikasi di sejumlah pusat ujian, termasuk di Universitas Sulawesi Barat dan Universitas Diponegoro. Menurutnya, teknologi seperti ini sengaja digunakan untuk mengelabui sistem pengawasan.
Modus kedua yang lebih sistematis adalah penggunaan proxy , di mana seseorang mendaftar atas nama peserta lain untuk mengikuti exam dengan tujuan memanipulasi hasil. Meski belum diungkap secara rinci, panitia menyatakan telah mengembangkan sistem deteksi wajah dan verifikasi identitas ganda untuk menekan praktik ini. Upaya ini dinilai krusial untuk menjaga fairness dan kepercayaan publik terhadap mekanisme SNBT.
Panitia juga mengimbau seluruh peserta untuk mematuhi tata tertib yang telah ditetapkan, termasuk larangan membawa perangkat elektronik ke dalam ruang ujian. Sanksi tegas, seperti pembatalan hasil ujian hingga pelaporan ke pihak berwajib, akan diberlakukan bagi pelanggar. Dengan sisa hari ujian masih tersedia, SNPMB berjanji akan meningkatkan monitoring dan respons terhadap potensi kecurangan di lokasi-lokasi lain di seluruh Indonesia.
Sudah pakai sistem canggih, masih ada juga yang nekat. cheating Kecurangan kayak gini merusak kesempatan orang jujur.
Bayangin tekanan biaya dan mental buat masuk PTN, eh ada yang malah sewa proxy joki. Nggak heran kalau kepercayaan publik makin turun.
Headset kecil bisa masuk? Pengawas harus lebih ketat dan dilatih deteksi dini. Alat semacam itu bahkan bisa dikirim lewat kurir khusus.
Integritas ujian harus dijaga. Kalau sistem mulai bobol, yang dirugikan bukan cuma peserta, tapi juga kualitas pendidikan ke depan.
Solusi jangka pendek: tambah kamera dan AI deteksi wajah. Jangka panjang: evaluasi ulang beban dan makna UTBK itu sendiri.
Setiap tahun selalu ada modus baru. Kapan monitoring pemantauan bisa lebih proaktif daripada reaktif?
Harusnya identitas diverifikasi sejak daftar, bukan cuma pas ujian. Keadilan dimulai dari proses yang transparan.
Yang pakai alat bantu mungkin merasa punya akses teknologi lebih. Tapi itu bukan alasan untuk merusak exam ujian yang seharusnya setara bagi semua.