Parlemen RI Soroti Cakupan Imunisasi Menurun: Alarm Bahaya Penyakit Menular!
Alarm kesehatan nasional kembali menyala. Cakupan immunization di Indonesia belum pulih, bahkan terus mengalami decline sejak pandemi mereda. Kondisi ini membuka celah serius bagi kembalinya penyakit menular seperti campak yang sebelumnya terkendali. Legislator memperingatkan bahwa tren ini bukan hanya soal angka, tetapi risk nyata terhadap kesehatan publik dan generasi mendatang.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, menegaskan bahwa capaian imunisasi nasional jauh dari target. Bahkan sebelum pandemi, angka cakupan tidak pernah mencapai 100 persen. "Jangankan 100 persen, 90 persen saja sangat jarang tercapai. Setelah pandemi, justru makin turun," tegasnya dalam Rapat Kerja di Kompleks Parlemen. Penurunan ini, katanya, adalah warning yang harus direspons serius agar tidak memicu wabah.
Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperbanyak layanan medis. Faktor sosial seperti tingkat education , persepsi masyarakat, dan keyakinan pribadi turut memengaruhi keputusan imunisasi. Pendekatan yang hanya mengandalkan fakta medis dinilai kurang efektif. "Perlu pendekatan yang lebih luas, tidak hanya medis, tapi juga sosial, budaya, dan public communication ," ujarnya.
Salah satu hambatan besar adalah vaccine hesitancy yang didorong oleh kekhawatiran non-ilmiah. Edukasi publik dinilai belum menyentuh akar permasalahan. Strategi komunikasi harus lebih masif dan humanis, mampu menjawab kecemasan dan membangun trust . Jika tidak, Indonesia berpotensi menghadapi lonjakan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah—dan itu bukan sekadar kegagalan program kesehatan, tapi failure melindungi anak-anak.
Saya setuju soal pendekatan humanis. Di kampung saya, banyak orang tua takut karena dengar vaksin bisa bikin anak lemas. Padahal itu side effect efek samping ringan, tapi kalau nggak dijelaskan dengan sabar, ya tetap ditolak.
Pendidikan dasar harus mulai ajarkan soal immunity imunitas sejak SD. Anak-anak bisa jadi agen perubahan kalau mereka paham dulu.
Penurunan cakupan ini bukan cuma soal logistik. Banyak tenaga kesehatan di lapangan merasa pressure tekanan karena harus meyakinkan satu per satu, sementara pelatihan komunikasi minim.
Ironis banget kita pernah sukses eliminasi polio, sekarang malah measles campak mau muncul lagi karena imunisasi turun.
Sosialisasi lewat medsos lebih efektif daripada spanduk. Tapi kontennya harus lucu dan gampang dicerna, bukan cuma data mentah. Keterlibatan publik beda kalau dikasih cerita, bukan angka.
Di daerah terpencil, akses ke puskesmas aja susah. Belum lagi transportation transportasi dan biaya. Jadi ini bukan cuma soal percaya atau tidak, tapi juga soal kemampuan.
Pemerintah selalu bilang 'harus lebih masif', tapi anggaran buat edukasi kapan naiknya? Pendanaan nyata yang dibutuhkan, bukan sekadar pidato.
Saya khawatir tren anti-vaksin makin kuat karena informasi salah menyebar cepat. Butuh kerja sama lintas sektor biar misinformation kesalahan informasi nggak jadi ancaman kesehatan.