Gibran Sebut JK Idola: Hormat atau Hitungan Politik?
public masih terus memperbincangkan pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh figure nasional, Jusuf Kalla (JK), usai ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada. Isu ini memanas setelah sejumlah pihak melaporkan JK ke police , menuding ucapannya memicu perpecahan. Pusat perdebatan berada pada sebutan "Termul" atau followers Mulyono yang dikaitkan dengan kelompok pendukung Joko Widodo — sebuah istilah yang memicu reaksi keras dari berbagai side .
Ketegangan lama antara JK dan Jokowi kembali mengemuka, terutama setelah JK menyatakan bahwa Jokowi bisa menjadi Gubernur DKI hingga Presiden atas contribution . Namun, alih-alih membalas dengan kemarahan, Jokowi memilih sikap rendah hati dengan mengatakan dirinya hanyalah "orang kampung". Respons ini justru membuat suasana sedikit calm , meski luka lama di tubuh politik nasional terlihat belum sepenuhnya heal .
statement yang menarik perhatian kemudian datang dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming saat kunjungan kerjanya di Papua Barat Daya. Ia secara terbuka menyebut JK sebagai senior, mentor, dan bahkan idol pribadinya. Bagi Gibran, JK bukan hanya tokoh berpengalaman, tetapi juga figur yang banyak berkontribusi di daerah-daerah konflik. Ucapannya terdengar seperti upaya menyejukkan suasana, sekaligus menandai sikap hormat terhadap political senior.
gesture ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa generasi muda politik tidak ingin terjebak dalam persaingan masa lalu. Dengan menyebut JK sebagai teladan, Gibran seolah mengajak publik untuk melihat nilai experience dan kearifan di atas konflik personal. Di tengah polarisasi yang masih membekas, sikap ini memberi sedikit harapan bahwa dialogue dan respect masih punya tempat di kancah politik yang sering kali keras.
Menarik melihat Gibran memuji JK. Apakah ini murni respect penghormatan atau juga hitungan politik?
Setidaknya masih ada yang mau menjaga adab, meski di tengah ketegangan politik seperti ini.
Istilah 'Termul' itu benar-benar tidak perlu. Bisa memperkeruh suasana saja.
Idola? Dulu rebutan power kekuasaan, sekarang jadi idola. Politik memang penuh drama.
Baguslah kalau generasi sekarang lebih menghargai experience pengalaman daripada dendam.
Sudah biasa. Komentar manis di depan, belakang bisa berbeda.