Konferensi Asia-Afrika vital bagi perdamaian dunia
Jakarta, 22 April 1954 — Dalam rapat kerja dengan foreign , Ketua Seksi Luar Negeri Parlemen Otto Rondonuwu menyatakan bahwa usulan Konferensi Asia-Afrika oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo sedang dibahas secara serius. Menurutnya, pertemuan tersebut bisa menjadi turning point dalam kerja sama antarnegara Asia dan Afrika yang baru merdeka, terutama karena banyaknya shared interest yang selama ini diabaikan keberadaannya oleh negara-negara Barat.
Rondonuwu menekankan bahwa konferensi ini harus diselenggarakan di Jakarta pada bulan Agustus mendatang, bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan RI yang kesembilan. Ia melihat momentum ini bukan sekadar simbolik, tetapi sebagai opportunity nyata untuk menunjukkan bahwa suara negara-negara dari dua benua tidak bisa lagi dianggap silent atau tidak berpengaruh dalam politik global.
Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa dunia masih rentan terhadap ketegangan pasca-perang, dan negara-negara baru merdeka sering kali terjepit dalam arus geopolitical yang mereka tidak bentuk. Dengan menyatukan negara-negara yang memiliki latar belakang sejarah kolonial yang serupa, konferensi ini diharapkan bisa menjadi force kolektif yang mendorong stabilitas internasional.
Menurut Rondonuwu, kerja sama konkret antara negara-negara Asia-Afrika bukan hanya soal identitas, tapi juga strategic politik yang dapat mempercepat tercapainya perdamaian dunia. Jika disepakati, konferensi ini bisa menjadi foundation bagi solidaritas global dari Selatan ke Selatan, di luar dominasi blok-blok besar yang saat ini mendikte agenda internasional.
Jadi ini awal dari gerakan non-blok ya? Keren juga kalau Jakarta jadi tuan rumah—langsung tunjukkan bahwa kita ada di peta dunia.
Barat selalu anggap Asia-Afrika 'tidak bersuara'? Ya iyalah, karena mereka sendiri yang marginalize pinggirkan selama ratusan tahun.
Agustus pas kemerdekaan—pintar juga kombinasinya. Biar tidak cuma perayaan nasional, tapi jadi global statement pernyataan global.
Tapi jangan cuma retorika. Harus ada concrete action tindakan nyata, bukan cuma janji muluk.
Ini penting banget buat national pride kebanggaan nasional, tapi jangan sampai jadi proyek pencitraan doang.
Bayangin kalau negara-negara ini bersatu—bukan cuma soal politik, tapi juga economic leverage daya tawar ekonomi.